Betadine Disebut Ampuh Luruhkan Corona, Ahli Farmasi Yusnita Rifai: Belum Ada Uji Klinisnya!

Betadine Obat Kumur Antiseptik
Betadine Obat Kumur Antiseptik

Makassar, SULSELSEHAT.COM – Beberapa hari terakhir ramai diberitakan bahwa Betadine kumur mampu meluruhkan virus Corona. Ahli farmasi dari Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin Yusnita Rifai, Ph.D tak menampik, meski tetap memberikan sejumlah penekanan dalam penggunaannya.

Menurut Yusnita, dari data klinis dan virologi sejumlah kasus Covid-19 di Eropa yang diterbitkan di jurnal Lancet, memang menunjukkan bahwa viral load (loading virus) yang tinggi ada di dalam saluran pernapasan atas terjadi pada minggu pertama gejala Covid-19.

JANGAN LEWATKAN :

“Sebagai obat kumur, (Betadine) memang efektif mendenaturasi protein sel inang yang ditumpangi virus, mungkin saja bisa mengurangi loading virus di minggu-minggu pertama,” jelasnya kepada SulselSehat.com, Sabtu (20/06/2020).

Yusnita menyebut, Betadine mengandung Povidone-Iodine (PVP-I) yang sering digunakan untuk membersihkan luka dan melawan infeksi misalnya pada kulit, mata dan vagina.

“Ahli bedah menggunakan Povidone-Iodine (PVP-I) sebagai antiseptik kulit sebelum operasi dalam konsentrasi encer serendah 0,3%. Fungsinya, menginaktivasi protein sel inang virus,” beber peraih Timmerman Award tahun 2013 itu.

BACA JUGA:  Angkat Sumpah 461 ASN, Sekot Makassar: Harus Berperan Tangani Covid-19

Dari riset uji in vitro memang ada aktivitas PVP-I dalam membunuh virus seperti SARS-CoV penyebab SARS tahun 2002, MERS-CoV penyebab MERS tahun 2012 dan Ebola. Penghambatan PVP-I terhadap virus SARS-CoV telah dipublikasikan tahun 2006.

“Tapi belum ada riset yang membuktikan bahwa PVP-I ini terbukti membunuh SARS-CoV2 penyebab Covid-19. Jadi tidak bisa juga spekulatif menyebutkan PVP-I efektif kalau belum ada bukti klinis,” tegas peraih gelar Ph.D tahun 2011 di Chiba University Jepang itu.

Menurut dia, SARS CoV dan SARS CoV-2 memiliki homologi 76% pada hasil sequensing asam aminonya. Homologi adalah istilah yang dipakai di bidang genetika bagi gen yang memiliki kemiripan urutan (sekuens) basa DNA.

“Tetapi pada virus SARS CoV-2, ada 3 ikatan baru yang terbentuk, yang menyebabkan efek destruktif Covid-19 pada paru-paru sangat kuat dibandingkan efek penyakit SARS yang dulu muncul tahun 2002,” ungkapnya.

Meski PVP-I baru terbukti membunuh virus SARS CoV saja, lanjut Yusnita, belum tentu juga mampu membunuh SARS COV-2. Masih diperlukan sejumlah riset mendalam.

BACA JUGA:  Kisruh Penolakan Rapid Tes oleh Warga, IDI Makassar: Mereka Diprovokasi

“Pertama, uji invitro untuk mengetahui seberapa kuat PVP-I mampu mengurangi loading virus pada saluran pernafasan dan bagaimana mekanismenya. Kedua, uji klinis untuk mengetahui safety (keamanan) dan dose range (konsentrasi) yang digunakan pada pasien,” jelasnya.

Karena itu, penggunaan betadine kumur boleh saja dijadikan rekomendasi untuk pencegahan infeksi virus Corona pada seseorang.

“Anjuran itu dapat dijadikan rekomendasi untuk pencegahan di awal-awal ada pertanda Covid-19, seraya menunggu hasil riset untuk uji-uji in vitro dan uji klinis terhadap obat kumur tersebut,” ujar Yusnita.

Kendati demikian, dirinya mewanti-wanti agar penggunaan betadine kumur tidak dilakukan sembarangan, apalagi jika sampai tertelan.

“Karena mengandung iod (iodin) yang merupakan salah satu gugus halogen yang bersifat reaktif, maka pasien dilarang berkumur dengan dosis berlebihan, dilarang meminumnya sebab ada risiko keracunan iodium,” pungkasnya.

Untuk diketahui, keracunan iodium dapat menyebabkan gagal ginjal, perubahan konsentrasi elektrolit dalam tubuh, atau kegagalan organ lainnya, dan bersifat toksik dan korosif.

Baca berita terbaru SulselSehat.com langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom atau Twitter @sulselsehat.

INFORMASI TERKAIT